Hari ini, tanggal 15 April 2009, lima tahun telah berlalu sejak peristiwa itu. Peristiwa yang sangat mengguncang kami. Kami, terutama saya tidak mengira bahwa peristiwa semacam itu terjadi di dunia nyata, lebih-lebih di dunia yang sudah modern seperti ini. Sebelumnya, saya mengira bahwa hal itu hanya terjadi di film dan sinetron saja. Kenyataannya, justru malah menimpa dia yang sangat kami sayangi.
Saat terjadinya peristiwa itu, saya tidak berada di tempat itu, karena saya masih berada di lingkungan tempat kuliah dan tidak seorang pun yang mengabariku. Sebenarnya, pada hari Jum'at 16 April 2004 saya bisa saja pulang bersama rombongan bus anak-anak Pati yang baru saja mendaftarkan diri untuk mengikuti USM STAN, tapi saat itu saya belum tergerak untuk segera pulang. Hingga pada Sabtu paginya, ada sms dari keluargaku. Sms itu memberitahukan bahwa mbakku telah melahirkan seorang bayi perempuan. "Alhamdulillah", syukurku. Dan akhirnya timbul keinginan untuk segera pulang. Saya kemudian menghubungi sekretariat tempat saya bekerja sambilan untuk meminta honor atas pekerjaan yang telah aku lakukan lebih awal sebagai modal untuk pulang kampung. Dan alhamdulillah mereka menyetujui meski sebenarnya itu tidak diperkenankan. Gak papa lah, yang penting itungan akhir bulannya tetep dilakukan dengan semestinya. Saya langsung menghubungi keluarga kalau sorenya mau berangkat pulang. Saat itu, saya belum mengetahui adanya peristiwa lain selain kelahiran ponakan baruku.
Perjalanan pulang kutempuh dengan sangat singkat, tidak seperti biasanya. Jam 4 pagi sudah sampai gang menuju rumahku. Masih gelap waktu itu. Dan ketika sampai di depan rumah, kulihat ada tenda (dekelit) dan banyak kursi. Saat itu saya mengira bahwa itu dipakai dalam rangka menyambut datangnya si jabang bayi. Bahkan meskipun sudah sampai ke dalam rumah pun, saya tidak tau apa yang sebenarnya telah terjadi. Saya bahagia melihat wajah lucu ponakan baruku. Dan saya menanyakan kepada ibu, "Mbak At ndi Bu'?" Beliau langsung menjawab, "Nek mburi." Kemudian saya ke belakang untuk menemui mbakku. Tapi, saya tidak menemukannya. Yang saya temukan hanya pakaian kotor mbakku di ember. [....] Saya sudah merasakan sesuatu yang gak enak, namun saya berusaha menyangkalnya. Saya jadi bertanya-tanya, dimana mbakku sekarang??? Bingung... cemas... tapi tetap berusaha positive thinking.
Hingga tak lama kemudian, saya di suruh duduk oleh pakde-ku, mau memberitahukan sesuatu. Perasaan saya jadi semakin gak enak dan menduga2 apa yang akan dikabarkan oleh pakde-ku itu. Dan ternyata, mbakku telah mendahului kami. Shock...down...tangis...sedih... tak terhindarkan. Beliau meninggal pasca melahirkan putri keduanya. Bidan yang menanganinya ternyata tidak mampu membantu. Di rumah sakit pun, kebetulan darah yang cocok dengannya habis. Harus mencari di rumah sakit lain. Namun, Allah telah menentukan takdirnya. Lima belas menit sebelum darah itu sampai, beliau telah meninggal. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un.
Saya protes kenapa saya gak diberitahu sebelumnya. Dan mereka pun menjalaskan bahwa mereka, terutama bapak dan ibu, khawatir kepadaku yang saat kejadian berada di tempat yang jauh, bila mendengar berita itu. Saya bisa terima penjelasan itu, namun saya tetap merasa kecewa dan menyesal tidak bisa melihat mbakku untuk yang terakhir kali. Terakhir yang saya ingat adalah ketika beliau melepas keberangkatanku menuju Jakarta, beberapa bulan sebelumnya.
Saya meminta untuk diantarkan ke makam mbakku. Pakde yang menemaniku sore harinya ke makam.
Sejak kejadian itu, Bapak tidak mau makan dan Ibu menjadi linglung. Ibu masih menganggap kalau mbakku masih hidup, bahkan guling pun dikira mbakku. Pastilah beliau sedih banget dan shock karena itu. Alhamdulillah kehadiranku bisa mencairkan suasana. Bapak pun sudah mulai mau makan dan keadaan Ibu lebih baik.
Ternyata di balik kejadian itu, ada pertentangan dan saling menyalahkan. Dan itu pun masih terasa bahkan sampai sekarang.
Peristiwa itu menjadi titik balik kehidupan keluarga kami. Perubahan pun terlihat jelas. Harapanku, semoga kedepannya dapat dihadapi dengan baik.
Disamping itu semua, yang patut disyukuri adalah kehadiran seorang bayi. Bayi itu menemani Ibuku dan menemani kami. Tidak bisa menggantikan Ibunya sih, karena dia mempunyai peran tersendiri di keluarga kami. Dia menjadi oase di tengah padang pasir yang luas. Menjadi penghibur di tengah kesedihan kami. Saya menaruh harapan yang besar padanya. Semoga kelak dia menjadi anak yang berbakti pada orang tua, patuh kepada Allah dan Rasulnya, berguna bagi bangsa dan negaranya, serta menjadi orang yang patut dibanggakan. Amin.
Semua yang terjadi adalah takdir Allah. Meskipun seringkali saya menyesal karena tidak bisa berbuat apa-apa untuknya. Saya masih merasa tidak percaya bahwa kejadian itu nyata. Itu hanya tipuan atau semacamnya, pikirku. Saya merindukannya, terutama pada saat awal-awal pasca kejadian itu. Ingin sekali bertemu dengannya walaupun hanya dalam mimpi. Dan Allah pun mengabulkan doaku. Saya bisa melihat dirinya, bersamanya di dalam mimpi.
Setitik darah memang sangat berarti bagi nyawa seseorang. Dan perjuangan seorang Ibu ketika melahirkan anaknya perlu pengorbanan yang sangat besar. Apakah pantas kita durhaka kepada orang tua kita, apalagi Ibu kita? Tidak ingatkah kita pada saat-saat perjuangannya melahirkan kita ke dunia?
Saya tidak ingin melihat wajah-wajah sedih itu lagi, terutama untuk ibu, bapak, kakak, adik, anak pertamanya.
Semoga beliau tenang dan damai serta bahagia di sana. Saya yakin beliau meninggal dalam syahid dan akan mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Amin.
Bagi si jabang bayi, selamat ulang tahun ya.. Semoga panjang umur dan sehat selalu. Semoga diberikan kelimpahan berkah dan rahmat dari Allah swt. Dan semoga apa yang kamu cita-citakan tercapai. Amin.
atspoedj
Bintaro, 150409
Potensi-Potensi Sengketa Pajak Setelah Berlakunya PMK-74/2024
1 tahun yang lalu

2 comments: on "15 April"
ini salah satu alasan mas g suka bulan April ya...
iya banget na... :(
Posting Komentar