Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Senin, Oktober 26, 2009

Memory (1) - SMU

Dalam kesempatan kali ini saya mau memulai menuliskan memori-memori yang sayang kalau sampai terlupakan. Sebelum ingatan makin tergerus usia, tak ada salahnya mengabadikannya dalam tulisan. Agar nantinya suatu saat, ketika ingatan sudah makin melemah, tulisan ini bisa mengingatkan. Tidak harus dimulai dari kejadian yang paling awal. Yang teringat ketika menulis, itulah yang renacananya akan dituangkan.

Benar kata orang, bahwa kejadian yang unusual akan sangat melekat di ingatan meski sudah lama berlalu. Ketika itu saya masih sekolah di SMU alias Sekolah Menengah Umum. Sebelumnya disebut SMA alias Sekolah Menengah Atas. Dan sekarang [ketika menulis ini], kembali lagi ke sebutan SMA. Tidak tau apa arti dan maksud sebenarnya dari perubahan nama itu. Ada juga istilah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), yaitu sebutan umum untuk SMU/SMA; STM, SMK, SMKK (sekarang sebutannya disamakan menjadi SMK, Sekolah Menengah Kejuruan).

Kembali ke cerita..
Kejadian itu terjadi saat saya masih duduk di kelas 1 SMU Negeri 1 Pati. Pas masih awal-awal tahun ajaran. Ketika itu pas pelajaran Bahasa Indonesia, yang diajar oleh Ibu Guru yang selaku wali kelas. "Maap Bu, bukan maksud untuk melupakan namamu. Meski sudah saya ubeg-ubeg ingatanku untuk mencari namamu, tetep saja belum menemukannya. :("

Sengaja atau tidak disengaja [miss memory], saya belum mengerjakan PR matematika, yaitu menggambar grafik di kertas milimeter, yang harus dikumpulkan pada hari itu. Seperti halnya dengan teman-teman yang lain yang belum mengerjakan PR, saya pun memanfaatkan waktu pas pelajaran sebelumnya. Meskipun guru Bahasa Indonesia sedang sibuk menerangkan pelajaran, 'kami' tetap saja diam-diam mengerjakan PR tersebut. Mungkin karena kurang ahli dalam hal mencuri waktu, tidak terlatih untuk bergerak diam-diam, atau memang teledor, akhirnya ketahuan juga 'aksiku' itu. Kontan saja Bu Guru jadi emosi, dan menanyakan apa yang sedang saya kerjakan. Haduhh... panik mode on. Hukuman pun dijatuhkan. Cuma saya yang jadi korban, padahal banyak teman-teman yang melakukan hal yang sama. Nasib.

Kalau dipikir-pikir sekarang sih hukumannya gak berat-berat amat, yaitu disuruh menjelaskan apa yang saya kerjakan itu (PR). Akan tetapi, rasa takut dan malu itulah yang membuat diriku panik. Rasanya belum pernah mengalami hal ini sebelumnya. Awalnya speechless, meski sudah berdiri di depan kelas. Namun, berhubung ada ancaman tambahan dari Bu Guru, akhirnya keluar juga kata-kata dari mulutku. Berusaha menjelaskan sesuatu yang tidak seharusnya dijelaskan di waktu yang tidak sesuai itu. Yahhh... yang penting bersuara. Feeling guilty pastinya.

Setelah jam pelajaran berakhir, Bu Guru keluar dengan wajah masih marah [pasti lahh..]. Nuansa kelas masih tegang. Pikiranku juga masih sangat panik. Untunglah ada seorang teman yang memberikan saran ditengah-tengah kepanikanku. Dia menyuruhku untuk segera meminta maaf kepada Bu Guru itu. Langsung saja saya lari mengejar Bu Guru yang masih berjalan menuju ruang kantor. Untunglah Bu Guru masih di lantai 2, dan saya pun bisa berbicara dan meminta maaf kepada beliau. Alhamdulillah dimaafkan, dengan syarat tidak akan mengulangi lagi. Syukurlah... suasana bisa sedikit mencair. Thanks so much to my friend, LF. Terima kasih atas bantuan yang sangat berharga itu. Saran itu sangat berarti buatku. :)

Memang saat itu saya telah menyakiti hati Bu Guru wali kelas, tapi alhamdulillah di akhir kelas satu, saya bisa membawa nama kelasku ke peringkat tiga besar paralel. Yaaa.. setidaknya bisa sedikit menambal kesalahan itu, may be :D

Sementara itu saja cerita kali ini. Awal untuk memulai menggali memori-memori. Semoga bisa lebih banyak memori yang tergali. I hope.

Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

0 comments: on "Memory (1) - SMU"

Posting Komentar